Tugas Pend. Kw. 04

“ National Resilience… “
Jacklins Ernawati / 321 08 333

Pengertian Ketahanan Nasional
Ketahanan Nasional sebagai kondisi. Perspektif ini melihat Ketahanan Nasional sebagai suatu penggambaran atas keadaan yang seharusnya dipenuhi. Keadaan atau kondisi ideal demikian memungkinkan suatu negara memiliki kemampuan mengemabangkan kekuatan nasional sehingga mampu menghadapi segala macam ancaman dan gangguan bagi kelangsungan hidup bangsa yang bersangkutan.
Ketahanan Nasional sebagai pendekatan / metode/cara menjalankan suatu kegiatan khususnya pembangunan negara. Sebagai suatu pendekatan, Ketahanan Nasional menggambarkan pendekatan yang integaral. Integral dalam arti pendekatan yang mencerminkan antara segala aspek / isi, baik pada saat membangun mampu pemecahan masalah kehidupan. Dalam hal pemikiran , pendekatn ini menggunakan pemikiran kesisteman.
Ketahanan Nasional meliputi :
• Ketahanan Ideology : Kondisi mental bangsa Indonesia yang berlandaskan akan ideology Pancasila.
• Ketahanan Politik : Kondisi kehidupan politik bangsa Indonesia yang berlandaskan demokrasi politik berdasarkan pancasila dan UUD 1945 yang mampu memelihara sistem politik yang sehat dan dinamis.
• Ketahanan Ekonomi : Kondisisi kehidupan prekonomian bangsa yang berlandaskan demokrasi ekonomi yang berlandaskan pancasila yang mampu memelihara stabilitas ekonomi.
• Ketahanan Sosial Budaya : Kondisi sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian nasional berdasarkan pancasila yang mengandung kemampuan membentuk dan mengembangkan kehidupan sosial budaya manusia an masyarakat Indonesia.
• Ketahanan Pertahanan Keamanan : Kondisi daya tangkal bangsa yang dilandasi kesadaran bela Negara seluruh rakyat yang mengandung kemampuan memelihara stabilitas pertahanan dan keamanan.

Apa yang dapat dilakukan untuk dapat mewujudkan Ketahanan Nasional ?
Menjadikan kaum perempuan Indonesia berani mengubah pola pikir yang selalu merasa sebagai orang kedua bila berhadapan dengan laki-laki. Perempuan harus berani memilih dan mengambil keputusan, serta mandiri tidak hanya menjadi konco wingking ( kawan di belakang – Red ) laki-laki. Hal ini harus dimulai sejak dini dalam pendidikan di dalam keluarga, sekolah dan lingkungan sosial. Oleh karena itu, perempuan Indonesia harus lebih mandiri dan percaya diri bahwa perempuan mempunyai kemampuan yang sama dengan laki-laki dalam hal mengejar ilmu pengetahuan di sektor apapun juga. Banyak bukti-bukti bahwa perempuan pun dapat mandiri sebagaimana layaknya kaum perempuan. Tujuannya hanya satu, yaitu menjadikan keluarga pra sejahtera menjadi mandiri, sejahtera, berwirausaha dan dicarikan jalan ke luar ke bank-bank yang bisa mendukung usaha kecil menengah. Tempat kaum wanita Indonesia dalam keluarga, masyarakat dan negara, menurut pandangan bangsa kita umumnya? Mengenai hal tsb pasti ada berbagai pandangan, jawaban dan tanggapan. Ambil satu contoh. Mengenai UU Pornografi. Jelas ada dua pendapat yang saling bertolak belakang. Satu pandangan menjadikan kaum wanita sebagai obyek yang menjadi ‘masalah’. Satu pendangan linnya melihatnya dari ketidak setaraan hukum terhadap hak-sama antara wanita dan pria.
Seperti R.A. Kartini, dalam sejarah bangsa, erat terkait dengan peranan beliau dalam mengangkat kaum wanita Indonesia, merebut hak untuk memperoleh pendidikan pengetahuan dan ilmu sama dengan kaum pria. Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Kumpulan surat-surat kepada Mrs. Abendanon dan suaminya. Karya Kartini ini , patut menjadi perhatian generasi muda. Jadikan Kartini, suri teladan. Khayati semangat dan api perjuangan Kartini untuk pembaruan, untuk meningkatkan pengetahuan dan derajat kaum wanita Indonesia. Pandangan ‘mainstream’ dalam masyarakat Indonesia, ialah, bahwa Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia. Kartini adalah tokoh nasional. Dalam usia semuda itu ( 25 th ) beliau tampil dan memperjuagkan ide dan gagasan pembaruan. Kartini telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.
Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh / suami. Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. Beliau pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma. Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang. Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.
Oleh karena itu, mengangakat derajat Para Kaum Wanita sangat baik dalam mewujudkan Ketahanan Nasional dengan tujuan meletakkan kembali bahwa kedudukan perempuan dan laki-laki adalah sejajar, karena manusia hanya dibedakan dari tingkat keimanannya dan bukan dari jenis kelaminnya dan berharap melalui ini isu dan persoalan tentang perempuan dapat menjadi perhatian banyak pihak.

Sumber :
http://74.125.155.132/search?q=cache:08OpgkAfvVEJ:susilo.staff.fkip.uns.ac.id/files/2009/05/ketahanan-nasional.ppt+Ketahanan+Nasional&cd=8&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a
http://74.125.153.132/search?q=cache%3APuKSnRlM550J%3Awww.damandiri.or.id%2Ffile%2Fbuku%2Fseri5komentar.pdf+Apa+yang+bisa+dilakukan+untuk+mewujudkan+ketahanan+nasional&hl=id&gl=id
http://ibrahimisa.blogspot.com/2010/03/perjuangan-emansipasi-wanita-belum.html
http://www.tangerangonline.com/berita/headline/2010/04/21/pejuang_kemajuan_wanita_raden_ajeng_kartini_1879_1904
http://selebzone.com/2009/01/27/perempuan-berkalung-sorban-angkat-realita-perempuan-indonesia.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s